Aug 25, 2015

Rejeki Tak Akan Tertukar

Rejeki Tak Akan Tertukar
Rejeki Tak Akan Tertukar
REZEKI TAK AKAN TERTUKAR
Hari minggu kemarin, saya dan anak-anak berkesempatan melihat geliat simpang lima - pusat kota Semarang- menyambut car free day di setiap minggunya.

Setelah sholat subuh di masjid Baiturrahman, kami menyusuri simpang lima diiringi terbitnya matahari dan mulai berdatangannya para pedagang 'tiban'. Di situ saya melihat banyak sekali pedagang franchise teh yang sedang marak merk To*g t*i. Mungkin lebih dari 20 pedagang yang menjual teh dengan merk sama di lingkungan itu. Bahkan, ada stand yang hanya dipisahkan satu pedagang lain.

Wah, pasti persaingan sangat sengit bukan antar pedagang? Namun yang terlihat beberapa saat kemudian, setiap stand sibuk dengan pelanggannya masing-masing. Meski tak selalu ramai, tapi selalu ada saja pembeli yang dilayaninya.

"Bukankah cicak saja bisa menangkap nyamuk yang terbang untuk dimakannya? Apalagi manusia! Jadi, kira-kira apakah masih ada alasan bagi manusia untuk mengemis dengan alasan menyambung hidup?"

Saya sampai menyempatkan sewa sepeda dan berkeliling sambil mengamati. Betapa Maha Pemurah Allah, yang telah menyiapkan rezeki bagi setiap makhluknya yang mau berusaha. Bukankah cicak saja bisa menangkap nyamuk yang terbang untuk dimakannya? Apalagi manusia! Jadi, kira-kira apakah masih ada alasan bagi manusia untuk mengemis dengan alasan menyambung hidup?

Rejeki Tak Akan Tertukar
Simpang Lima menjelang Car Free Day

Aug 19, 2015

Terjebak dalam Cara Belajar yang Salah

Terjebak dalam Cara Belajar yang Salah
Terjebak dalam Cara Belajar yang Salah
TERJEBAK DALAM CARA BELAJAR YANG SALAHTadi malam saat kami sekeluarga pergi ke toko buku Gra****a, saya sempat heran melihat parkiran yang biasanya penuh sesak, tampak lumayan sepi. Padahal masih terhitung weekend. Kemudian saya baru sadar bahwa besok adalah minggu ujian bagi anak-anak sekolah. "Ooo pantes sepi, pada belajar di rumah pastinya..."

Saya jadi berpikir, ternyata masih banyak orang tua yang menganut cara belajar konvensional bagi anak-anaknya. Layaknya jaman saya sekolah dulu, saat musim ujian tiba, NO jalan-jalan, NO keluar rumah, NO main-main. Pokoknya HARUS serius belajar di rumah!

Hal yang sama juga masih saya lakukan pada putra sulung kami. Saat ujian semester satu kemarin, saya mengajaknya belajar dengan duduk fokus belajar dengan durasi 10-15 menit sekali duduk. Satu dua kali masih mau, tapi lama-lama anaknya kabur kesana kemari, sambil lari-lari yang akhirnya tidak fokus pada apa yang ingin saya sampaikan. Wal hasil si abang yang ujian, tapi justru saya yang senewen. Wkwkwk

Setelah membaca tentang Learning Style atau pengenalan cara belajar, saya jadi tau bahwa abang adalah tipe anak kinestetik (banyak bergerak & beraktivitas), intrapersonal (suka bertemu banyak orang, bersosialisasi) dan linguistik (senang mengenal istilah baru, selalu kepo dengan kata-kata yang 'menarik'). Setidaknya tiga hal itu yang menonjol dibanding dengan lima tipe multiple intelegencies lainnya. Luar biasanya, dengan begitu saya jadi tahu bagaimana cara belajar yang asyik buat abang.

Jadi mulai semester dua ini meski di musim ujian sekalipun, abang tetap boleh main lego sama adeknya, tetap boleh pergi ke toko buku di hari ujian, tetap boleh berkunjung ke rumah eyang, tetap bisa melakukan hal-hal seperti biasanya. Terus kapan belajarnya? Setiap saat adalah belajar! Review materi ataupun belajar bisa kami saat perjalanan di atas motor (sekalian biar ga ngantuk), di dalam mobil, saat mencari-cari buku, saat bermain, saat di warung sembari menunggu pesanan. Namun saat saya perlu abang untuk fokus maka saya akan membuat soal di selembar kertas, yang kira-kira tidak butuh waktu sampai 10 menit untuk menyelesaikannya. (Biasanya saat saya buat soal, abang melakukan aktifitas lain. Setelah soal selesai, saya panggil. 10 menit dikerjakan dan langsung kita review). Sehari biasanya 3 - 4 kali review tertulis, soalnya pun tidak banyak, yang penting saya bisa mengukur pemahaman konsepnya.

"Coba Bunda bayangkan kalau kita tidak pernah tau learning style yang sesuai dengan anak kita, berapa tahun ia harus tertekan selama bersekolah? Anak yang cenderung kinestetik dipaksa duduk serius berjam-jam, anak visual dipaksa mendengarkan ceramah, dll"

Dengan menerapkan cara belajar sesuai dengan kebutuhan anak, sekarang si abang tetep happy meski sedang ujian. Semester kemarin pun jadi pembelajaran bagi saya untuk tidak memaksakan sesuatu pada anak, termasuk cara belajar. Coba Bunda bayangkan kalau kita tidak pernah tau learning style yang sesuai dengan anak kita, berapa tahun ia harus tertekan selama bersekolah? Anak yang cenderung kinestetik dipaksa duduk serius berjam-jam, anak visual dipaksa mendengarkan ceramah, dll. Terlebih lagi di masa ujian seperti sekarang, pasti aura ketegangan terasa di rumah dan di wajah anak-anak kita (pengalaman pribadi). Hehe..

Apakah kita ingin menambahkan anak kita menjadi generasi depresi di negara ini? Think about it..

‪#‎learningstyle‬

Sosialisasi

Sosialisasi
Sosialisasi
Tidak jarang orang tua menyekolahkan anak dengan alasan Sosialisasi, takut si anak tidak punya teman, jadi kuper dan sebagainya.

Saya pun demikian. Putra kedua kami yang hampir berusia empat tahun nampaknya belum ingin sekolah dan masih nyaman belajar di rumah. Justru saya yang berniat mendaftarkannya sekolah dengan alasan sosialisasi, karena memang tidak ada teman sebaya di lingkungan rumah kami, rata-rata dua sampai tiga tahun di atasnya.

Dari situlah kegalauan saya dimulai, si adek masih santai aja di rumah, tp malah saya yang khawatir dg kemampuan sosialisasinya kelak.

Beberapa kawan yang anaknya homeschooling mengatakan bahwa sosialisasi tidak harus dengan yang sebaya, justru anak akan pandai beradaptasi dengan lintas usia. Namun tidak serta merta menghilangkan kegundahan saya.

Sampai tadi sore saat saya mengajak kedua putra kami turut serta dalam kegiatan pramuka yang diadakan komunitas homeschooling, barulah saya percaya bahwa sosialisasi tidak berarti harus memasukkan anak sekolah terlalu dini, sosialisasi tidak harus dengan teman seumuran, sosialisasi bahkan bisa lebih bermakna dengan mengajarkan anak adab dan cara bersikap yang baik kepada siapa pun, apapun latar belakangnya, berapapun usianya.

"seringkali kekhawatiran orang tua lah yang membuat anak terbebani"

Ya, saya baru tersadarkan bahwa anak saya tidak kuper meski tidak ada teman sebaya di rumah, ìa juga tidak lantas jd anak pemalu saat berkumpul dg teman-teman barunya di komunitas.

Ahh.. Memang seringkali kekhawatiran orang tua lah yang membuat anak terbebani, harus ini, harus itu, harus pintar sosialisasi, tidak boleh pemalu, harus selalu tampil, dll. Saat menyaksikan si kecil berbaur dengan kawan yang lain tadi, ìa tersenyum sambil melihat saya. Seolah berkata, 'I'm fine Bunda.. It's okay jika saya belum sekolah, saya akan senang belajar di rumah dan tetap mempunyai banyak teman." 

Salam Hangat,
kiki emotikon


Sang Juara

Sang Juara
Sang Juara
SANG JUARAHari ini sy menemani si abang ikut lomba mewarnai yg diadakan oleh sebuah toko buku. Abang memang semangat sekali ingin ikut lomba, dari rumah pun ìa sudah menyemangati diri sendiri, "Abang pasti bisa!" Ungkapnya 
kiki emotikon
Dari sini saya jadi tau berbagai tipe orang tua saat mendampingi lomba,
1. Orang tua yg selalu ingin mengajari anaknya. Ini diberi warna merah ya, itu diberi warna campuran kuning dan orange, nanti diblok pake warna biru, dsb.
2. Orang tua yg susah melepas anaknya. Meski sudah diberi tau berkali2 oleh panitia untuk menunggu di luar area lomba, sang ortu masi saja mau deket2 dg anakny sambil sesekali berbisik memberikan instruksi wink emotikon
3. Orang tua yg memperlakukan anaknya bak 'Princess'. Sampai tempat lomba si anak di sisiri, diberi pita, diberi alas selimut (walo sudah ada karpet), disiapin lap ini itu, bahkan didandani di lokasi! Hehe..
4. Orang tua juara. Orang tua ini ingin sekali si anak jadi juara, sampai rela gugling gambar2 setipe dg yg disediakan panitia via hpnya demi bisa nyontek warna yg paling bagus.
5. Orang tua yg membebaskan anaknya. Biasany si anak langsung dilepas setelah diberi semangat dan membebaskan anak berekspresi dalam karyany.
Yah, tiap orang tua memang mempunyai cara yg berbeda2 dalam mendukung anaknya. Semua itu kembali pada tujuan yg ingin dicapai, "Saya mengikutkan anak saya dalam lomba ini agar........... "

Generasi Single Intelligence

Generasi Single Intelligence
Generasi Single Intelligence
Tanpa disadari, sebagian besar dari kita -generasi tahun 90an dan sebelumnya - adalah para Generasi Single Intelligence. Dimana kecerdasan sudah didefinisikan dengan pasti. Anak cerdas adalah yang selalu mendapat nilai 100, rangking 1, pintar di semua pelajaran dan sebangsanya. Selain itu? Bukan anak pintar!
Sampai hal kecil pun sudah ada patokan tersendiri. Ingat saat dulu SD kita diminta menggambar pemandangan? Pasti diwujudkan dengan dua gunung bersebelahan, atau satu ditengah, dengan matahari menyembul sebagian, awan-awan menempel matahari, burung-burung di langit, jalanan yang... Yah begitulah, dengan sawah di salah satu sisi, rumah atau gubug di sisi lainnya serta pepohonan di sepanjang jalan.

"Kita bahkan lupa bahwa arti kata PEMANDANGAN adalah segala sesuatu yang dipandang. Bukan GUNUNG!"

Bahkan sampai sekarang ketika putra kami minta diajari menggambar, hanya itulah gambar yang saya bisa! Kita bahkan lupa bahwa arti kata PEMANDANGAN adalah segala sesuatu yang dipandang. Bukan GUNUNG!
Semoga putra putri kita tidak menjadi para Generasi Single Intelligence. #belajarjadiorangtua

Resensi Buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor

Resensi Buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor
Resensi Buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor
Judul : 30 Paspor di Kelas Sang Profesor
Penulis : J.S. Khairen
Penerbit : Noura Books
Terbit : Oktober 2014
Halaman : 328 Halaman
Kategori : Perjalanan, Inspirasi
Rating : 4 of 5

"Paling lambat 1,5 bulan ke depan, kalian semua harus sudah berangkat!"

Demikian ucapan Prof. Rhenald Kasali pada hari pertama masuk kuliah Pemasaran Internasional, yang sontak membuat kelas gaduh luar biasa. Sementara paspor harus didapatkan dalam waktu dua minggu ke depan.
--------------------------------------- 30 Paspor di Kelas Sang Profesor

Dari situlah segalanya berawal, sebuah tantangan luar biasa dari dosen yang luar biasa. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan para mahasiswa yang mendengarnya. Antusias, tertantang, kebingungan, panik, semua campur aduk menjadi satu.

Ketertarikan saya pada buku ini berawal dari sebuah artikel yang saya baca di media sosial berjudul PASPORT oleh Rhenald Kasali, yang kemudian saya juga membaginya pada halaman facebook saya. Sebagaimana ditulis dalam artikel tersebut, bahwa anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Dan sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

Saya kira itu sangat beralasan, karena pada saat seseorang merasakan kesendiriannya, ia akan mengeluarkan segenap kemampuan yang bahkan diluar ekspektasi mereka, dengan kata lain Break The Limit untuk dapat melalui segala hambatan yang mereka hadapi. Tak ada lagi telpon ibu bapak, minta bantuan dosen, minta ditemani sahabat, semua menjadikan mereka harus mampu bertahan di atas kaki mereka sendiri. Dan, ternyata bisa! Itulah inti dari self driving ala Prof. Rhenald kasali yang ingin disebarkan oleh para generasi muda sekarang.

Terbukti setelah membaca Buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor ini saya pun seakan ikut serta dalam perjalanan dan pencarian jati diri para mahasiswa ini. Seperti ada di antara mereka yang harus bersusah payah mencari sponsorship demi membiayai perjalanan, ada yang dengan cara berjualan untuk mendapatkan uang saku, ada yang nekat pergi ke Islandia seorang diri, ada pula yang terpaksa memilih Bangladesh sebagai tujuannya karena negara Asia lain telah dibooking oleh teman yang lain.

"Sebuah perjalanan sama seperti kehidupan. Prosesnya bisa saja menyebalkan, menyakitkan atau membuat mati rasa. Tapi, ketika kamu sudah sampai di tujuan, semua beban rasanya sirna"

Pada akhirnya, dengan membaca Buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor saya jadi terinspirasi kelak akan memberikan tantangan yang sama pada kedua putra kami. Tak harus persis, yang penting target self driving exercise tercapai. Bahwa sebuah perjalanan sama seperti kehidupan. Prosesnya bisa saja menyebalkan, menyakitkan atau membuat mati rasa. Tapi, ketika kamu sudah sampai di tujuan, semua beban rasanya sirna (Buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor : hal. 20). So, happy reading Dears!

Salam Hangat,

Aug 12, 2015

Berapa Lama Kita Hidup?

Berapa Lama Kita Hidup?
Berapa Lama Kita Hidup?
Berapa Lama Kita Hidup? Pernahkah pertanyaan tersebut terbesit di benak kita? Di dalam Al-Qur'an Surah Al-Hajj ayat 47 Allah berfirman, "Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.". Lantas kira-kira berapa lama kita hidup di dunia?

Mari berhitung sejenak. Jika satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun di dunia, maka :
1 Hari = 1000  Tahun
1 Jam  = 41,67 Tahun
  ?        = 63      Tahun
63      Tahun x 1 Jam = 1,5 Jam
41,67 Tahun
Bila rata-rata manusia saat ini sebagai umat Rasulullah SAW hidup selama 63 sebagaimana beliau, maka 63 tahun di dunia sama artinya dengan 1,5 jam di akhirat!

Berapa Lama Kita Hidup? Hanya 1,5 jam! Bayangkan betapa singkatnya waktu kita di dunia sebagai penentu bagaimana kita kelak akan hidup di akhirat. 
Hanya 1,5 jam,
Jika engkau sedang bergembira, maka Bersyukurlah
Jika engkau sedang bersedih, maka Bersabarlah
Jika engkau sedang bertarung dengan nafsu, maka Tahanlah
Jika engkau sedang terjatuh, maka Kuatlah
Jika engkau sedang merasa marah, maka Ingatlah.
Bahwa waktumu hanya sedikit, tidak layak engkau sia-siakan untuk hal-hal yang akan membuatmu menyesal kelak

Hanya 1,5 jam, berkumpullah dengan orang-orang yang kau sayangi, berlombalah berbuat kebaikan, berjuanglah untuk kehidupanmu yang akan datang.

Hanya 1,5 jam.

#talktomyself

Aug 8, 2015

Trik Memotivasi Anak

Trik Memotivasi Anak
Trik Memotivasi Anak
Happy Tuesday Ayah Bunda... Sebenarnya saya agak ragu-ragu mau menulis tentang Trik Memotivasi Anak, karena jujur saja saya bukanlah pakar ataupun psikolog anak yang lebih concern di bidangnya. Namun saya yakin setiap orang tua punya cara dan pengalaman masing-masing dalam mendidik anak-anaknya, termasuk bagaimana Trik Memotivasi Anak. Nah, kali ini saya adalah salah satu dari para orang tua yang sekedar ingin berbagi tentang trik memotivasi anak yang kami terapkan di rumah.

1. Membuat Papan Prestasi
Papan prestasi hanyalah istilah, bisa benar-benar dibuat dari papan, kertas, plastik tebal maupun gabus (seperti yang kami gunakan dirumah). Ayah Bunda tinggal mengajak sang buah hati untuk mendekorasi atau mewarnai papan tersebut sesuka hati, seperti gabus putih dapat kita cat warna warni, diberi tempelan, dilukis, yang penting anak akan senang setiap kali melihatnya. Lalu apa fungsinya? Sesuai dengan namanya, papan prestasi berfungsi sebagai media pamer / ajang unjuk gigi hasil kreatifitas anak-anak. Misalnya si abang baru tertarik tentang astronaut, suatu hari dia menggambar seorang astronaut yang sedang menginjakkan kaki di planet lain, lengkap dengan narasi cerita tentang gambar tersebut. Kemudian gambar itu kita tempel deh ke papan prestasi. Harapannya setiap orang yang datang kerumah akan melihat dan mengapresiasi karya si abang, dampaknya anak jadi makin semangat mengembangkan imajinasinya. Selain lukisan, papan prestasi bisa ditempel apapun ya... bisa tabel bintang, menu makanan yang dibahas bersama, kesepakatan keluarga, semua tergantung kesepakatan anak dan orang tua.

2. Tabel Bintang
Tabel bintang ini berisi kolom tanggal dan kegiatan yang akan diberi bintang. Konsepnya adalah orang tua akan menuliskan bintang / menempel bintang bila anak melaksanakan kegiatan yang telah disepakati bersama. Pada tabel bintang kami, kolom kegiatan berisi SHOLAT, INFAQ, MENGAJI, BACA CERITA, MEMBANTU PEKERJAAN RUMAH, LAIN-LAIN (kami isi bila si anak pada hari itu melakukan hal positif lain selain dari yg telah disebutkan). Biasanya kami membuat tabel bintang dengan periode per bulan, dan di akhir bulan kami akan menghitung berapa jumlah bintang yang didapat dan tugas ayah untuk memberi reward ;)

Berhubung sejak memasuki SD si sulung sudah diberikan buku kontrol harian dari sekolah, maka tabel bintang kami dipindahkan ke buku tersebut. Selanjutnya giliran si Adek yang akan punya tabel bintangnya sendiri.

3. Kesepakatan Keluarga
Kesepakatan Keluarga berisi perjanjian tiap-tiap anggota keluarga beserta konsekuensi atas pelanggaran kesepakatan. Misalnya dalam poin AYAH terdapat kesepakatan berbunyi "Bila Ayah pulang lambat, Ayah akan menelpon rumah terlebih dahulu" dengan konsekuensi pelanggarannya adalah Ayah harus membelikan sate!. Sedangkan pada poin ABANG ada yang menyatakan bahwa "Abang tidak akan rewel di pagi hari / menjelang sekolah" dengan konsekuensi tidak menonton Upin Ipin selama sehari.

Poin-poin kesepakatan dapat diusulkan oleh anak maupun orang tua, sekaligus sebagai sarana komunikasi agar tidak ada protes dari anak maupun marah-marah yang tidak perlu dari orang tua. Semuanya terasa lucu dan sepele bukan? Namun dapat mengajarkan anak tentang reward and punishment serta mengingatkan kembali bagi kami para orang tua untuk selalu menepati janji.

4. Uang Hasil Bekerja
Banyak konsultan parenting yang menganjurkan untuk mengenalkan arti uang pada anak sedini mungkin, semua itu mengajarkan bahwa untuk meraih sesuatu selalu ada usaha yang harus dilakukan. Kami baru menerapkan hal ini pada si Abang sejak TK B, sedangkan Adek belum dilibatkan karena belum paham tentang kegunaan uang. Penerapannya adalah ketika mau membantu pekerjaan rumah seperti menyiram bunga, menata rak buku, merapikan dan membersihkan kamar, membersihkan kebun, menguras aquarium, dll (konsepnya anak sebagai pembantu orang tua) maka kami akan memberikan reward berupa uang yang akan dimasukkan ke sebuah kaleng/dompet.

Bila suatu hari Abang menginginkan mainan atau sesuatu, kita akan mengambil uang dari kaleng tersebut atau bisa juga melalui perjanjian iuran dengan orang tua dan sebagainya. Jika barang yang ingin dibeli harganya murah, tentunya harus mengambil dari uang hasil membantu pekerjaan rumah tersebut. Sedangkan bila menginginkan sesuatu yang lebih mahal seperti jam tangan, sebaiknya kita tanya dulu jam seperti apa yang diinginkan? kita survey berapa harganya? kemudian buatlah kesepakatan. misal untuk jam seharga 50.000 kita bisa bernegosiasi, "Okey, Abang silakan rajin membantu sampai uangnya 20.000 nanti sisanya Ayah/Bunda yang bantu." Jangan lupa selipkan motivasi "Uangnya Abang sekarang udah 15.000 lho, tinggal dikit aja kurangnya. Harus semangat ya! Kalau Abang tiap hari mau membantu Insya Allah 3 hari lagi kita udah bisa beli jam". Pasti anak kita akan membantu dirumah dengan semangat. Namun kami tidak memberlakukan reward uang untuk hal-hal yang sifatnya kewajiban, seperti membereskan mainan setelah bermain, membuang sampah pada tempatnya atau menyiapkan peralatan sekolah tiap malam harinya.

Banyak hal yang dapat dipetik dari pelajaran tentang Uang Hasil Bekerja. Anak akan lebih menghargai uang (tidak boros), belajar berhitung dengan menghitung uang yang diperoleh tiap harinya, belajar skala prioritas barang mana yang ingin dibeli terlebih dahulu, belajar bersabar bahwa tidak semua keinginan kita akan terkabul saat itu juga, serta belajar tentang usaha dan pengorbanan untuk mencapai sesuatu. Luar biasa bukan? Lalu bagaimana kalau tiba-tiba anak kita bosan? Atau selama berhari-hari tidak mau membantu? Tidak masalah, mungkin dia sedang capek, sedang tidak ada motivasi, sedang merasa tidak perlu uang karena tidak ingin apapun. Biarkan saja sambil sesekali mengingatkan "Kayaknya udah lama ya Abang ga bantuin Ayah/Bunda..." dan tunggulah sampai dia kembali bersemangat.

Rasanya cuma 4 hal saja yang bisa saya bagikan dengan Ayah Bunda semua, saya percaya Ayah Bunda juga punya ide-ide kreatif lainnya dalam Trik Memotifasi Anak yang bisa disharing disini. Saya tunggu ya...

Salam Hangat,

Resensi Buku Guru Luar Biasa

Resensi Buku Guru Luar Biasa
Resensi Buku Guru Luar Biasa
Judul Buku : Guru Luar Biasa
Penulis : Ciptono & Ganjar Triadi
Penerbit : PT. Bentang Pustaka
Terbit : Juli 2009
Halaman : 244 Halaman
Kategori : Biografi, Kisah Inspiratif
Rating : Recommended 3 of 5 stars

   Sebelum saya membahas Resensi Buku Guru Luar Biasa ada baiknya readers melihat video tayangan Kick Andy berikut ini https://www.youtube.com/watch?v=tPpbkdfBEyY

Nah, ini bercerita tentang Pak Cip, nama akrab Bapak Ciptono sang kepala sekolah Sekolan Luar Biasa Negeri Semarang.

Saya tidak memiliki referensi apapun untuk membeli buku ini. Berawal dari undangan seminar parenting di sekolah putra kami, yang entah kenapa waktu itu saya agak under estimate dengan tema yang disuguhkan yaitu "Cara Pembinaan Anak Berkebutuhan Khusus". Padahal biasanya saya paling semangat kalau ada undangan parenting, tapi dengan tema yang tidak familiar di kehidupan kami karena jarang berinteraksi dengan anak-anak berkebutuhan khusus, saya jadi kurang tertarik.

Hari itu sengaja saya datang terlambat utnuk menghadiri acara parenting. Dalam undangan tertulis jam 7.30 - 10.00 WIB, dan saya datang pada jam 9.30 WIB (ketahuan ga niat banget!). Yang bikin saya takjub adalah ruangan aula terasa begitu hidup, para orang tua tertawa dan menangis hampir tak terlukiskan. Ya, disitulah saya bertemu dengan Pak Cip dan anak-anak didiknya yang begitu luar biasa. Kisah bagaimana Pak Cip yang dulunya seorang guru SLB biasa dengan penuh perjuangan dan ketulusan membimbing para anak-anak berkebutuhan khusus, bahkan beliau merelakan garasi rumahnya sebagai tempat belajar para muridnya. Hingga kini beliau menjabat sebagai Kepala Sekolah SLB Negeri Semarang dengan bangunan sekolah megah dan menempati lahan sekitar 10 hektar. Tidak hanya anak berkebutuhan khusus, namun disana juga membimbing para lansia, gelandangan dan pengemis.

Selain diisi oleh Pak Cip, pada acara parenting tersebut juga ada sharing pengalaman ibu dari anak berkebutuhan khusus, serta penampilan anak-anak luar biasa yang membuat saya merasa bangga dan terharu saat menyaksikan betapa mereka punya banyak kelebihan dibalik segala keterbatasannya. Pak Cip memang benar, Tuhan tidak pernah salah dalam membuat ciptaanNYA, jadi tidak ada seorangpun yang lahir hanya dengan kekurangan saja. Seperti Karisma, anak autis yang ternyata mempunyai kemampuan mengingat melebihi orang-orang yang dianggap "normal", ia bisa mengingat seluruh bandara di dunia, menghafal lebih dari 8000 lagu, mengingat pidato presiden, ingat betul kapan ia pernah pergi ke suatu tempat, bahkan dengan mudah Karisma bisa menebak tanggal 30 November 2015 jatuh pada hari apa. Masya Allah...Dan tentunya masih banyak teman-teman Karisma dengan bakat yang berbeda-beda. Semua kisah tentunya juga bisa Readers baca di buku Guru Luar Biasa ini.

Di akhir acara itulah rombongan SLB Negeri Semarang menjual berbagai hasil kreatifitas anak-anak didiknya, seperti batik cipratan yang cantik, sprei, taplak meja, tempat galon, CD dan VCD koleksi mereka, termasuk 2 judul buku yaitu Indonesia Menginspirasi dan Guru Luar Biasa yang saya beli ini. Itulah momen nikmatnya berbagi buat saya dan menjadikan saya manusia yang lebih banyak bersyukur atas segala karunia yang telah saya terima.

Oiya bagi Readers yang mau mengundang rombongan Pak Cip juga boleh, bahkan beliau tidak pernah pilih-pilih acara mana yang mau didatangi. Acara ulang tahun kah, khitanan kah, perkumpulan majlis taklim, arisan, acara sekolah, semua beliau dengan senang hati untuk menjadi pembicara. Dengan harapan dapat berbagi inspirasi dan tentunya memperkenalkan hasil karya anak-anak luar biasa ini kepada masyarakat luas. Mengutip perkataan beliau "Diundang dimana saja Pak Cip mau, asalkan bisa menginspirasi orang lain dan saya boleh jualan". Hanya sesederhana itu kebahagiaan bagi Pak Cip.
 
Readers yang mau mengundang Pak Cip, terutama untuk wilayah Semarang dan sekitarnya boleh dicatat hp beliau ya..08122835120. Yuk buat kegiatan kumpul-kumpul kita jadi lebih bermakna sekaligus berbagi inspirasi. Kebetulan SLB Negeri Semarang pada bulan Desember 2014 rencananya akan mencanangkan RUMAH INDONESIA MENGINSPIRASI, luar biasa bukan? Belakangan saya nyesel kenapa saya dateng terlambat waktu itu, beruntungnya acara masih berlangsung sampai jm 10.30, jadi saya kebagian satu jam terakhir. Yang penting bisa berbagi oleh-oleh inspirasi kerennya disini ya, hehe..
 
Sekian dulu posting kali ini ya Readers, next post saya kepingin sharing pengalaman tentang memotivasi anak. Bagi yang mau menambahkan boleh banget ya... Saya terbuka untuk saran maupun kritik, lagipula siapalah saya yang bukan pakar apa-apa ini. See U Soon..

Salam Hangat,

Resensi Buku Totto-Chan, Gadis Cilik di Jendela

Resensi Buku Totto-Chan, Gadis Cilik di Jendela
Resensi Buku Totto-Chan, Gadis Cilik di Jendela
Judul Buku : Totto-Chan, Gadis Cilik di Jendela
Penulis : Tetsuko Kuroyanagi
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Cetakan Keenam belas, Juli 2014
Halaman : 272 halaman
Kategori : Biografi, Pendidikan Anak, Parenting
Rating : Must Be Read!

Totto-Chan, sebuah buku luar biasa yang kalau kata Kerispatih "Tak Lekang Oleh Waktu". Bagaimana tidak? Saya ingat betul pertama kali membaca buku ini adalah saat masih di bangku SMU sekitar tahun 2002/2003, dengan buku entah milik siapa yang bentuknya cukup lusuh saking banyaknya berpindah tangan dari satu anak ke anak yang lain. Dan sangat mengagumkan bahwa ternyata 11 tahun dari hari itu saya masih menjumpai buku ini di toko buku. Hebatnya lagi ternyata buku ini pertama kali terbit pada tahun 1982. What a wonderfull book??

Kisah pengalaman hidup dari sang penulis, Tetsuko Kuroyanagi atau Totto-Chan, seorang gadis Jepang yang sangat aktif, penuh imajinasi dan rasa ingin tahu akan segala hal hingga membuat gurunya kewalahan. Tepat 3 bulan setelah masuk kelas 1 SD Totto-Chan dikeluarkan dari sekolah karena sikapnya yang tidak bisa ditoleransi di sekolah konvensional. Kemudian sang mama memasukkan anak kesayangannya itu ke sekolah yang menakjubkan, Tomoe Gakuen.

Sebuah sekolah dengan gerbang yang berwujud pohon, ruang kelas berupa gerbong-gerbong kereta dan kepala sekolah kesayangan mereka Mr. Sosaku Kobayashi. Sangat mengejutkan bahwa pada tahun 1937 di Jepang telah berdiri sekolah dengan sistem pendidikan yang sangat ramah anak, mengingat detik ini pun sekolah konvensional masih menguasai sistem pendidikan kita.

Tomoe Gakuen, sekolah dimana anak-anak disarankan memakai pakaian yang paling usang, sehingga anak tidak perlu takut bajunya akan kotor atau robek saat bermain. Dimana bekal harus berisi makanan dari laut dan makanan dari gunung (Bukan istilah-istilah membingungkan tentang 4 sehat dll). Dimana setiap pagi guru akan menulis daftar hal yang akan dipelajari hari ini dan tiap anak bebas memilih mana yang terlebih dulu akan dilakukan tanpa terganggu dengan pilihan anak yang lain. Dimana setelah makan siang tidak ada kegiatan di dalam ruangan (belajar sambil jalan-jalan, berkebun, berenang, menari). Dimana setiap anak merasa tidak ingin pulang saat jam sekolah usai dan ingin segera sampai sekolah lebih awal di pagi hari. Ya, sekolah seperti itulah. Tomoe Gakuen.

Setelah membaca buku ini (kembali), saya merasa bahwa semua orang tua maupun pendidik WAJIB membacanya. Buku Totto-Chan dapat menjadi referensi dan inspirasi yang tak ternilai bagi para pembacanya. Detik ini pun rasanya saya tak sabar ingin menanyakan pada Ibu Guru di sekolah si Abang apakah beliau telah membaca buku ini? jika belum saya berniat menyumbangkan 1 buku untuk perpustakaan sekolah. Setidaknya para guru bisa bergantian membacanya dan murid-murid yang sudah lancar membaca pun saya yakin akan tertarik, dan bukan tidak mungkin membuahkan ide-ide kreatif lain untuk sekolah mereka. Bayangkan saja, di tahun 90an bahkan buku ini menjadi Buku Wajib para pendidik di Jepang yang dicanangkan oleh pemerintah.

Akhir kata, saya pribadi berharap akan muncul sekolah-sekolah Tomoe yang lain, atau setidaknya kita dapat menciptakan suasana sekolah Tomoe di rumah kita masing-masing. Setelah ini saya ingin mengajak si Abang membaca buku Totto-Chan dan mendiskusikan bersama, pastinya akan sangat menyenangkan. Percayalah, buku ini benar-benar investasi berharga yang tak kan lekang dimakan jaman.

Salah Hangat,

Resensi Buku Totto-Chan, Gadis Cilik di Jendela
Resensi Buku Totto-Chan, Gadis Cilik di Jendela

Fun Time #6 : Membuat Tempat Pensil dari Gelas Bekas

Fun Time #6 : Membuat Tempat Pensil dari Gelas Bekas
Berawal dari ide si sulung yang kepingin jualan, jadilah kami prakarya pas jadwal Fun Time #6 : Membuat Tempat Pensil dari Gelas Bekas. Pemikiran saya, kalau harus beli barang baru untuk dijual ke teman-teman di sekolah, pastinya harga jual jadi lebih mahal. Lagipula tentunya teman-temannya sudah punya barang-barang bagus yang dibelikan oleh orang tua mereka, kalau buatan sendiri tentu tiada duanya bukan?

Setelah kami tengok sana sini via mbah gugel dan ucup (a.k.a yutub) serta berdasarkan ketersediaan barang bekas yang ada di rumah, akhirnya kami putuskan Fun Time #6 : Membuat Tempat Pensil dari Gelas Bekas.

Alat dan Bahan :

  • Wadah bekas : Gelas / botol / karton / kaleng, dll
  • Pensil warna bekas : Ingat ya, tolong diperhatikan kata 'BEKAS' yang artinya tidak terpakai. Kalau harus beli baru dulu namanya bukan daur ulang, tapi pemborosan. Hehe... Kebetulan pensil yang kami gunakan sudah tidak terpakai hampir 3 tahun lalu karena kualitasnya yang tidak bagus, tapi setelah dilap dan diraut ternyata masih nampak bagus.
  • Kertas untuk sampul
  • Double tip
  • Gunting
  • Hiasan lainnya : bisa bongkar-bongkar dari mainan anak yang sudah tak terpakai
Tutorial Pembuatan :
  1. Bersihkan wadah bekas yang akan digunakan, kemudian tempel dengan double tip di sekeliling permukaan. 
    Fun Time #6 : Membuat Tempat Pensil dari Gelas Bekas
  2. Ukur tinggi wadah, kemudian potong kertas sesuai ukuran.
  3. Rekatkan kertas disekeliling permukaan wadah 
  4. Pada bagian luar wadah, tempel double tip tepat di bagian bawah
  5. Tempelkan pensil warna satu per satu pada permukaan wadah
    Fun Time #6 : Membuat Tempat Pensil dari Gelas Bekas
  6. Atur dan acak warna serta ketinggian pensil sedemikian rupa agar indah dipandang
  7. Tambahkan hiasan lain yang dapat mempercantik tempat pensil
  8. Kemas dengan rapi (karena ini diniatkan untuk dijual) ^_^
Taraaa jadilah tempat pensil buatan kami! Meski tidak terlalu rapi, yang penting happy. Lagipula, mana mungkin mikir rapi-rapian kalau main sama anak. Hehe.. 

Setelah dikemas dan cukup puas dengan hasilnya, tempat pensil dimasukkan ke dalam tas untuk ditawarkan pada teman-teman sekolah si sulung keesokan harinya. Dan, surprise!! Ada teman sekolah Abang yang ingin memesan dua buah! Lah, kan ini cuma ada satu? Kalau mau buat lagi, masa iya harus beli pensil warna baru (ingat, daur ulang lho! bukan pemborosan..). 

Ternyata, temen tersebut memesan dua buah dengan model yang 'terserah'. Artinya boleh dihias apa saja yang penting bagus, katanya. Senangnya... artinya abang masih punya PeeR membuat kreasi Fun Time #6 : Membuat Tempat Pensil dari Gelas Bekas lagi. Itulah salah satu kelebihan buatan sendiri dibanding beli di toko. Jangan tanya terjual dengan harga berapa ya, tempat pensil ini berhasil dijual seharga Rp. 10.000,- dan kepuasan tak terkira. ^_^

Salam Hangat,